Surabaya

Tragedi Mismatch dan Relevansi “Cash is The King”

Oleh : Dr. Ahmad Subagyo *)

Dr Ahmad Subagyo (Dok.Pribadi)

Gelagat ekonomi nasional dan dunia akhirnya bergejolak seiring belum berakhirnya Pandemi Covid-19 memasuki pekan kedua April ini. Sebelumnya, manakala pertumbuhan ekonomi nasional sudah mengalami pelemahan di awal tahun 2020, tiba-tiba di pertengahan Februari berita COVID-19 yang kasusnya diawali dari Wuhan-Tiongkok, merebak menghiasi semua lini media massa dan media sosial. Situasi ini sempat menahan pergerakan trading di Bursa Efek, bahkan beberapa kali mengalami tren negatif IHSG di Bursa Efek Indonesia.

Ketika akhirnya Presiden RI mengumumkan kasus COVID-19 pertama di Indonesia pada pertengahan Maret, nilai tukar rupiah anjlok hingga menembus di atas Rp 15.000 per US Dollar (dan sampai tulisan ini terbit angkanya menembus Rp 16 ribu per US Dollar). Sepekan kemudian, Pemerintah mulai menginstruksikan instansi baik swasta maupun Pemerintah untuk melakukan kerja dari rumah  (Work From Home). Praktis di awal Maret itu kemandegan ekonomi nasional telah dimulai.

Memasuki April, perekonomian diperkirakan sedang menuju pada titik keseimbangan baru. Seluruh transaksi baik di sektor keuangan maupun perdagangan/Investasi stag dan decline. Pada saat sektor riil sedang decline muncul informasi tentang relaksasi kredit, yang ditangkap oleh masyarakat umum sebagai pesan Program Bantuan (subsidi) dari Pemerintah.

Merespons hal itu, serta merta masyarakat “peminjam/Debitur” Lembaga Keuangan/Koperasi beramai-ramai menyatukan suara “tidak bayar kredit”. Sebahagian besar menanggapi “relaksasi” sebagai “pembebasan kewajiban”, sehingga menghindar dari LK/KSP-nya. Bukannya berusaha untuk menemui LK/KSP-nya tapi justru menghindari untuk bertemu dengannya. Kondisi ini semakin mempersulit dan memperparah keadaan, karena LK/KSP sulit untuk mendeteksi dan mengidentifikasi kondisi nasabah/anggotannya.

Era Mismatch

Praktis di awal April ini, LK/KSP memasuki era baru, yaitu ERA MISMATCH. Mismatch berupa ketidaksesuaian, ketidakcocokan, dan ketidakseimbangan dana di Lembaga Keuangan dan KSP, akan jamak terjadi. Adanya kecenderungan penarikan dana secara massif tanpa diimbangi dengan adanya penghimpunan dana yang memadahi akan menimbulkan kesulitan “dana” berupa deficit cash flow di Lembaga Keuangan.

Situasi yang lebih mengarah kepada ketidakpastian akan menimbulkan sikap spekulatif bagi sebahagian besar masyarakat. Kekhawatiran akan diberlakukannya lockdown akan menimbulkan panic buying. Ketidakpastian waktu pemberlakuan kondisi “darurat” itu, akan mendorong penggunaan dana “CASH” yang berlebihan sebagai sikap berjaga-jaga. Inti dari seluruh “kebijakan dan keputusan” berorientasi pada masalah “LIKUIDITAS”.

Individu perlu memegang dana tunai untuk keperluan pribadi. Rumah tangga perlu dana tunai untuk belanja di warung tetangga ketika mal-mal tidak beroperasi. Perusahaan sedang menyiapkan dana tunai untuk menggaji karyawan dan persiapan THR-nya. Para pedagang memerlukan uang tunai untuk membeli persediaan karena supplier tidak lagi menerima pembayaran tempo. Apalagi Lembaga keuangan, justru lebih membutuhkan “FRESH MONEY” guna menjaga “REPUTASI”, yang seringkali harganya sangat mahal melebihi  asetnya sendiri.

Di-sinilah akan teruji, siapa yang benar-benar “likuid” dan well knowledged – terhadap risiko. Mereka yang memiliki pengetahuan dan kesadaran risiko akan mengambil tindakan lebih cepat dan terencana-sistematis dibandingkan dengan “mereka” yang serba “dadakan” dan “kagetan”. Barangkali mereka yang tidak “prepared” akan mampu menyelesaikan problem mismatch ini dengan aman dan selamat sampai berakhirnya krisis, namun biayanya akan sangat mahal. Termasuk kemungkinan menjual asset dengan harga bawah pasar, hingga  pinjam ke Lembaga lain dengan cost of money yang tinggi.

Ada tiga tipikal Lembaga Keuangan dalam menghadapi era mismatch.

Pertama, Well Prepared. Mereka sudah memiliki mitigasi risiko yang baik, Lembaga Keuangan ini memiliki stand by loan dari Lembaga Keuangan lain, memiliki asset likuid yang memadahi (Bank, Surat berharga, persediaan, logam mulia, dsb), sehingga relatif stabil dan terkendali serta tidak memerlukan pengajuan pinjaman baru ke Lembaga Keuangan lainnya. Klaim atas beberapa polis asuransi atas accident perusahaan,  penjadwalan ulang pembayaran dan kewajiban serta ketersediaan modal yang mamadahi.

Kedua, Uncontrollable. Lembaga keuangan ini tidak memiliki sense of risk, sehingga pengendalian likuiditas tidak ter-manage dengan baik. Tidak ada mitigasi risiko, terutama risiko likuiditas. Namun masih memiliki nama baik dan reputasi yang baik, sehingga Lembaga keuangan lain masih bersedia untuk membantu memberikan pinjaman.

Ketiga, Broken. Lembaga keuangan ini “collaps” alias default karena sebelumnya memang sedang bermasalah, terutama masalah “keuangan” yang disebabkan oleh salah urus manajemen mereka. Misalnya, mereka memiliki kredit fiktif, kredit topengan, fraud dan sebagainya yang menyebabkan likuiditas sudah terganggu sejak sebelum adanya “krisis pandemic”. Sehingga dengan adanya ketidakpercayaan publik, LK ini tidak mampu menghimpun dana dari masyarakat dan LK lain pun tidak percaya untuk menempatkan dananya. Kondisi ini kian memperparah LK yang bermasalah ini dan jika tidak ada penanganan yang serius dari Otoritas Keuangan dan atau keterlibatan Regulator untuk membantu mendampinginya, maka predikat LK GAGAL ada di depan mata.

Barangkali untuk LK di bawah OJK akan relatif lebih “soft” karena ada LPS, BLBI, dan LK lain yang dapat mensupport mekanisme penyelesaian krisis secara gradual melalui RESOLUTION & CRISIS MANAGEMENT FRAMEWORK. Adapun untuk Koperasi yang sudah telanjur masuk kategori ketiga di atas akan sulit untuk mendapatkan fasilitas bantuan dari pemerintah.

Akhirnya, pepatah “Cash is the King” menemukan relevansinya.  Kelolalah dana tunai anda dengan bijaksana, semoga selamat sampai krisis “MISMATCH” berakhir.

*) Ketua Umum IMFEA dan Ketua STIE GICI

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker