Opini

Kyai Sahal dan Duit NU

Opini – Metro Liputan 7, Suatu hari PBNU mengadakan sebuah acara di Surabaya, mengundang duta-duta besar negara sahabat, dan pelayanannya pun VVIP.

Lebih-lebih KH. Sahal Mahfudz, sebagai Ra’is Aam PBNU, tentu bisa mendapatkan pelayanan yang lebih.

Di Kota Pahlawan ini, Mbah Sahal – sapaan mulianya, selama dua hari bermalam di sebuah hotel berbintang.

Tapi, ketika panitia acara ingin membayar kamar hotel yang ditempati Kyai Sahal, beliau bilang :

“Ndak usah, aku jek duwe duet dewe,” (Tidak, saya masih punya uang sendiri), sambil berjalan ke kasir.

Panitia pun masih merayu Kyai Sahal agar mau dibayari oleh panitia.

Mbah Kyai Sahal tetap bilang, Ndak usah, sambil beliau mengeluarkan uang dari tasnya.

Setelah itu panitia masih berkata :

“Mana bon-nya yai, biar kami ganti.

” Mbah Sahal dawuh:

“Ndak usah, aku moh nganggo duite NU.

Aku gowo duetku dewe ae.

Nek NU iku urip-urip NU, ojo sepisan-pisan golek urip nok NU.

“(Tidak, saya tidak mau menggunakan duitnya NU.

Saya pakai uang saya sendiri saja, di NU itu harus menghidupi NU, jangan sekali-kali mencari hidup di NU).

Sifat Mbah Kyai Sahal patut kita contoh, Beliau benar-benar tulus, ikhlas mengabdi untuk NU.

Padahal sekelas Ra’is Aam seperti Mbah Sahal tentu mudah sekali bagi beliau untuk mendapat fasilitas dari NU.

Al-Faatihah

In Frame :

KH. Ahmad Sahal Mahfudz & KH. Muslim Rifa’i Imampuro (Mbah Liem).

Penulis : Munawar

Editor : Nang

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker