Opini

Gitu Aja Kok Repot

Desember Bulan Gus Dur

Opini – Metroliputan7.com, Bulan Desember selalu menjadi bulan syahdu. Tak hanya karena hujannya yang bikin suasana muram, tapi di bulan inilah Presiden ke-4 RI KH. Abdurahaman Wahid (Gus Dur) berpulang. Sosok kosmopolit yang lahir dari dunia pesantren.

Sosok yang dikenal dengan kencendikiawanannya, kecerdasannya, dan humor-humor segarnya.

Di era post truth (pasca kebenaran) humor rasanya menjadi kebutuhan pokok.

Humor akan memberikan ruang bagi akal sehat untuk terus membangun optimisme yang kini terancam dengan membanjirnya ujaran pesimisme, ketakutan, dan rasa permusuhan.

Pun dalam suasana bernegara akhir-akhir ini di mana ketegangan-ketegangan yang dipicu pandemic Covid-19, kian terbatasnya kebebasan berekspresi, hingga kian menguatnya dominasi aparat hukum, rasanya humor-humor segar nan cerdas sangat kita butuhkan untuk meningkatkan imunitas tubuh dan kewarasan pikir.

Di sinilah signifikansi humor dibutuhkan.

Humor yang dalam satu pengertian didefinisikan sebagai sikap untuk membangkitkan tawa atau rasa gembira berpotensi menjadi antitesa atas berbagai semburan kebohongan yang bertujuan memunculkan ketakutan dan rasa pesimisme.

Dimasa lalu, humor merupakan salah satu medium penting dalam upaya penyebaran nilai-nilai Islam di kalangan masyarakat.

Disetiap dakwah, para mubaligh selalu menyelipkan humor untuk menyampaikan pesan-pesan penting dalam Islam.

Tradisi humor ini ditransfer dengan indah oleh Gus Dur dalam kehidupan politik Indonesia.

Ditengah berbagai represi orde baru maupun saat liberalisasi demokrasi pascareformasi Gus Dur mampu “menyepelekannya” dengan berbagai ungkapan humor cerdas.

Pasca Gus Dur rasanya belum ada tokoh bangsa yang mampu mencairkan suasana tegang kehidupan bernegara dengan humor-humor cerdas.

Akibatnya masalah yang sebenarnya sepele menjadi runyam karena didekati dengan pandangan kecurigaan atau pendekatan hukum yang tidak pada tempatnya.

Kini di bulan Desember yang ditahbiskan sebagai Bulan Gus Dur, saatnya kita mengenang kecendekiwanan, kenegarawanan, hingga humor-humor cucu pendiri Nadhlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asyari’e itu tersebut.

Sembari bergumam dalam hati, jika masalah-masalah yang kita hadapi seberat apapun itu toh pada akhirnya selesai juga pada waktunya.

Maka tak usahlah sedih dan berputus asa karena tidak ada kesulitan yang abadi.

Gitu Aja Kok Repot….
Allah yarham alfatiha buat guru bangsa ini

(Bersambung Bab XV)

Penulis : Idham

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker