Spread the love

Desember Bulan Gus Dur

Opini – Metroliputan7.com, Ketua Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar alias Cak Imin menghadiri forum Kongres Ulama Nusantara yang digelar Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta Minggu 1 Maret 2018.

Dalam forum yang dihadiri ratusan kiai dan ulama Nahdlatul Ulama se- DIY itu Muhaimin membuat suasana heboh dan riuh saat bercerita tentang pengalamannya sebagai ABG yang merupakan plesetan singkatan Anak Buah Gus Dur.

Muhaimin menuturkan perjalanan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menjadi presiden ke empat RI tak bisa dilepaskan dari peristiwa terbentuknya poros tengah pada 1999 yang kala itu dimotori mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional Amien Rais.

“Saat itu, pasca-reformasi masyarakat terbelah karena sebagian menghendaki BJ. Habibie lanjut sebagai presiden namun PDI Perjuangan sebagai pemenang pemilu 1999 menghendaki yang jadi presiden Ibu Megawati Soekarnoputri,” ujar Cak Imin.

Dalam situasi politik yang memanas bahkan sempat pecah bentrok fisik yang dikenal Peristiwa Semanggi antara laskar merah dan kelompok laskar Islam itu, Poros Tengah bentukan Amien Rais muncul sebagai penengah.

“Lewat Poros Tengah itu Pak Amien Rais menengahi, (presidennya) bukan Habibie juga bukan Megawati,” ujar Muhaimin yang mengaku kala itu diminta Amien Rais bergabung dalam gerakan Poros Tengah itu.

Dari Poros Tengah itulah muncul nama Gus Dur yang kala itu sedang sakit, sebagai simbol tokoh yang bisa diterima Megawati dan kalangan umat Islam.

Setelah disepakati Gus Dur yang hendak dijadikan presiden, Amien Rais meminta ditemani Cak Imin menuju Ciganjur menemui Gus Dur yang saat itu sedang tidur.

“Sebagai anak buah Gus Dur, saat itu saya deg-degan, Gus Dur sakit diminta jadi presiden, tapi kalau Gus Dur nggak mau, kapan lagi (orang) NU bisa jadi presiden?” ujar Muhaimin.

Kemudian setelah bertemu Gus Dur, Amien Rais mengatakan Indonesia sedang butuh tokoh yang jadi penengah.

Amien mengatakan Gus Dur adalah pemimpin yang diharapkan menenangkan pertentangan dan pertempuran di antara sesama warga bangsa yang tengah memanas menentukan pemimpin kala itu.

Gus Dur pun setelah Amien Rais selesai bicara tiba-tiba duduk dari posisi tidurnya lalu menyatakan menerima permintaan Poros Tengah itu untuk menjadi calon presiden Indonesia.

Muhaimin Iskandar mengaku kaget campur haru mendengar pernyataan Gus Dur itu.

Namun menurutnya Amien Rais kala itu lebih kaget lagi.

“Lalu Pak Amien bisik bisik pada saya, ‘Lhoh, rencananya kan Gus Dur nolak (jadi calon presiden) dan menyerahkan (posisi calon presiden) pada saya?” ujar Cak Imin disambut tawa peserta forum.

“Jawaban Gus Dur tidak sesuai skenario, makanya Gus Dur jadi presiden,” kata Muhaimin.

Dalam perjalanan pulang dari pertemuan Gus Dur itu, Cak Imin mendapat banyak pertanyaan dari para kolega termasuk dari mereka yang mendukung Amien Rais jadi presiden.

Kenapa bukan Amien Rais yang akhirnya muncul sebagai alternatif menggantikan Gus Dur sebagai tokoh yang dicalonkan jadi presiden dan mewakili berbagai kekuatan.

Menjawab cecaran itu Cak Imin pun mengaku tidak tahu kenapa Gus Dur bersedia dicalonkan dalam kondisi sakitnya itu.

“Dan begitulah sampai akhirnya Gus Dur dilantik jadi presiden, dan setelah jadi presiden Gus Dur jadi langsung sehat,” ujar Muhaimin.

Dari situ, Gus Dur lalu sering mengutarakan sebuah anekdot.

Bunyi anekdot Gus Dur itu, ‘Berpolitik tidak usah pakai biaya.

Saya saja jadi presiden tanpa tim sukses, tanpa biaya dan hanya modal dengkul, itu pun dengkulnya Pak Amien Rais,’ ujar Muhaimin Iskandar menirukan almarhum Gus Dur.

Allah yarham alfatiha untuk guru bangsa kita.

(Bersambung Bab XVIII)

Penulis : Idham

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *