Opini

Gus Dur – Amien Rais

Desember Bulan Gus Dur

Opini – Metroliputan7.com, Amien Rais saat Reformasi 1998, Tokoh reformasi yang juga pendiri PAN, Amien Rais, berbicara mengenai masa-masa saat berjuang memenangkan Abdurahman Wahid (Gus Dur) dalam koalisi dibentuk Amien, koalisi umat Islam yang disebut Poros tengah pada tahun 1999.

Gus Dur saat itu bersedia dicalonkan sebagai Presiden pada sidang umum MPR berhadapan dengan calon dari PDIP, Megawati Soekarnoputri, namun ada cerita yang disampaikan Amien Rais bahwa sesungguhnya setelah Presiden B.J Habibi lengser, justru Amienlah yang didaulat oleh Habibie untuk maju menjadi Capres dari Poros Tengah.

Amien menolak ide itu karena ia lebih dulu sudah mendukung Gus Dur sebagai Capres dalam koalisi umat Islam tersebut.

Keputusan itu semakin matang ketika Amien sudah disumpah untuk mengemban jabatan Ketua MPR untuk lima tahun ke depan.

Cerita itu disampaikan Amien dalam kanal Youtube milik pakar hukum tata negara, Refly Harun.

“Betul betul, jadi gini Mas Refly, jadi dua bulan sebelum itu diadakan pertemuan umat Islam di PP Muhammadiyah, Menteng Raya itu ada Gus Dur, ada saya, ada tokoh-tokoh lain.

Kemudian saya saat itu mengatakan saudara-saudara sekalian para hadirin, jadi di gedung Muhammadiyah ini saya akan mendeklarasikan akan menyatakan bahwa Poros Tengah itu akan mencalonkan Gus Dur sebagai presiden,” kata Amien sambil menceritakan kejadian saat itu.

“Jadi waktu itu, setelah Pak (Habibie) itu diterima laporan pertanggungjawabannya, lalu Pak Habibie kemudian mengatakan tidak mungkin saya (Habibie) akan maju lagi.

Di rumah Pak Habibi itu saya didaulat sama Pak Habibi saya didaulat untuk maju (sebagai Capres) melawan orang lain, dengan Bu Megawati,” jelas Amien.

Desakan dari teman-temannya agar Amien menerima daulat tersebut dan maju sebagai Capres, terus berdatangan, namun karena ia sudah kadung mendukung Gus Dur, keinginan dia maju sebagai capres diurungkan karena alasan moralitas dan etika berpolitik saat itu dan keputusan itu semakin matang ketika Amien mendengarkan masukan dari Ibundanya melalui sambungan telepon.

“Ya memang Mas, Gus Dur kan tahu, bukan berarti saya lantas enggak mampu, enggak.

Insyaallah saya mampu, cuma waktu itu kesannya saya mencuri di tikungan itu, sementara saya sudah disumpah oleh Mahkamah Agung sehingga saya dan Pak Habibie dan Bapak-bapak yang lain, saya minta waktu untuk telepon ibu saya,” terang Amien.

Allah yarham,alfatiha buat guru bangsa kita ini

Journalist : Idham

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker