Opini

Presiden KH. Abdurrahman Wahid Keluar dari Istana Negara

Desember Bulan Gus Dur

Opini – Metroliputan7.com, Melalui Menlu Alwi Shihab, Presiden Abdurrahman Wahid menyatakan bahwa sampai kapan pun dirinya tidak akan meninggalkan Istana Merdeka.

Sementara Ketua MPR Amien Rais menyatakan bahwa MPR memberi waktu dua minggu bagi Gus Dur untuk berkemas-kemas dan setelah itu Gus Dur harus segera meninggalkan Istana Merdeka.

“Itu amat mudah, kalau presiden yang baru sudah dilantik maka Gus Dur akan menjadi warga Negara biasa.

Kalau ia masih mau tinggal di Istana seminggu atau dua minggu tidak apa untuk berkemas, tapi tidak ada lagi protokoler, paspamres dan kabinet,” Kata-kata dia tidak akan berdampak seperti saat ia menjadi presiden.

“Ia akan menjadi warga negara biasa,” ujar Amien.

Pernyataan Amien ini jelas lebih lunak dari pernyataannya pada Sabtu lalu seusai Sidang Paripurna.

Saat itu, Amien mengatakan, kalau dia tetap tinggal di Istana, kami tidak akan memberi toleransi lebih lama.

“Saya yakin bahwa polisi akan menahan dia,” katanya.

Banyak tokoh menyarankan agar Gus Dur keluar Istana secara sukarela, sehingga tidak ada hal yang mengganjal bagi semua pihak.

Jika tetap bertahan, Gus Dur bisa dianggap kepala batu dan tidak tahu diri, Ia tidak mau mundur secara elegan, walaupun secara politik sudah tidak diakui menjadi presiden.

Masalahnya sekarang, Gus Dur telah bertekad untuk tetap di istana sebagaimana MPR telah bertekad untuk mengeluarkan Gus Dur dari istana.

Bila aparat Penegak Hukum dikerahkan untuk mengeluarkan Gus Dur secara paksa, tidakkah pendukung Gus Dur akan membanjiri Istana? Yang lebih mengkhawarirkan, akan terjadi bentrok antara pendukung Gus Dur dan aparat keamanan.

(1) Pembubaran MPR/DPR.
(2) Mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan mempercepat pemilu dalam waktu satu tahun.
(3) Membekukan Partai Golkar sebagai bentuk perlawanan terhadap Sidang Istimewa MPR.

Selaku orang dekat Gus Dur, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dalam beberapa kesempatan pun mengungkapkan kenapa Dekrit tersebut dikeluarkan.

“Wes suwe gak onok Dekrit, cak (Sudah lama tidak ada Dekrit, cak),” kata Cak Nun sembari menahan tawa saat menirukan perkataan Gus Dur.

Tak perlu waklu lama, Lembaga yang kala itu dipimpin Amies Rais, pun mengkudetanya di siang hari.

Kudeta tersebut tentu memancing perlawanan pendukung Gus Dur yang sudah berkumpul di luar Istana.

Dalam situs resmi NU menuliskan, Sebagian politisi NU menyuarakan perlawanan, sebagian kecil bahkan membentuk front “perjuangan,” ujar mereka siap mempertahankan Gus Dur di kursi Presiden.

Suara perlawanan terus dikumandangkan, basis-basis Nahdliyin menggelegak, dibangkitkan dengan narasi terdzolimi, di tengah situasi yang panas, tentu banyak yang tahu apa Reaski Gus Dur akan adanya aksi tersebut.

Dalam buku “Sisi Lain Istana” J. Osdar mengisahkan, dengan digandeng putrinya Tenny Zanuba Wabid sekira pukul 20.48 WIB, Gus Dur menuju teras Istana Merdeka dengan celana pendek dan kaos warna abu-abunya yang menjadi saksi catatan sejarah perjalanan Bangsa

Tiga hari setelahnya, Gus Dur keluar dari Istana diiringi massa yang rela mati untuknya. Ia pun menyempatkan diri untuk berpidato di lapangan Monas, beberapa hari sehabis momen tersebut Gus Dur pun berkata “Itu lebih baik daripada tidak pakai celana”.

Sebenarnya Gus Dur sudah mengenakan pakaian komplit yang lebih formil, namun karena momen tersebut luput dari pantauan wartawan, maka Gus Dur mau mengulangnya.

“Tetapi Gus Dur sudah keburu lepas pakaian dan mengenakan celana pendek.

Namun, Gus Dur tidak keberatan untuk tampil begitu,” ujian pertama bagi TNI/Polri
pengeluaran mantan Presiden Gus Dur dari Istana Negara merupakan wewenang dari Presiden baru Megawati.

“Presiden baru yang bisa menjalankan untuk memerintahkan mantan Presiden Gus Dur keluar dari istana,” sebaiknya Presiden Megawati memberikan tenggang waktu bagi mantan Presiden Gus Dur untuk berkemas-kemas.

“Asalkan jangan terlalu lama,” cetusnya.

Alasannya, istana itu merupakan istana Negara dan kepunyaan rakyat.

Selain itu, mengingatkan bahwa tanggal 17 Agustus adalah hari besar bagi Bangsa Indonesia, Biasanya Upacara selalu diadakan di istana.

Jika Mega ingin mentolerir, perlu juga diperhitungkan waktu yang akan digunakan untuk persiapan acara upacara yang biasa berjalan di Istana Negara setiap tanggal 17 Agustus.

Jika pada batas waktu toleransi yang diberikan oleh Presiden Megawati, Gus Dur tidak mau juga meninggalkan istana, Mega tentunya dapat mengambil tindakan yang lebih tegas lagi agar mantan Presiden Gus Dur keluar dari istana.

“Tindakan tegas itu harus dilakukan oleh Polri, di sinilah ujian pertama bagi Polri,” katanya.

Karena seperti diketahui, pendukung Gus Dur tentunya tidak akan tinggal diam kalau Presiden Megawati sampai mengambil tindakan tegas yang akan dilakukan oleh Polri.

Dalam pelaksanaan tindakan tegas terhadap pengeluaran mantan presiden Gus Dur dan keluarganya dari Istana, kemungkinan terjadi bentrok antara pendukung Gus Dur dengan Polri yang harus menjalankan tugasnya, sangatlah besar.

“Kalau mereka menghalangi pelaksanaan pengeluaran mantan presiden Gusdur, hal itu harus tetap dicegah oleh Polisi,” ungkapnya.

Ada beberapa sarana yang dapat dilakukan untuk menceraiberaikan massa.

Seperti misalnya saja, menggunakan pompa air atau gas air mata selagi mantan Presiden Gus Dur dan keluarganya dikeluarkan dari Istana, mengingatkan bahwa pola kontrol yang seperti itu, yang biasa disebut dengan riots control, agak berbahaya.

“Asal jangan sampai terjadi kecelakaan-kecelakaan yang tidak perlu, dan itu ada cara-caranya, misalnya saja dengan riots control.

Walaupun riots control itu bisa berbahaya, bisa anarki itu jadinya,” Allah Yarham, Al-fatihah buat Guru Bangsa kita.

(Bersambung Bab XXXII)

Penulis : Idham

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker