Surabaya

Kebiri Kimia, Apakah Setimpal..?

Spread the love

Surabaya – Metroliputan7.com, Kejahatan kekerasan seksual terhadap anak merupakan salah satu kejahatan yang sangat meresahkan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA), kasus kekerasan seksual terhadap anak terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Tertanggal 1 Januari – 19 Juni 2020 kasus kekerasan seksual terhadap anak sudah mencapai 1.848 kasus. Angka tersebut merupakan angka yang tergolong tinggi sehingga tidak heran apabila kekerasan seksual merupakan kejahatan yang perlu diperhatikan penanganannya.

Baru-baru ini, Presiden Joko Widodo resmi menetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rehabilitasi, dan Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual terhadap Anak.

Dengan adanya hukuman kebiri kimia tersebut diharapkan dapat menjadi kabar gembira bagi dunia anak untuk memberikan efek jera terhadap pelaku kekerasan seksual terhadap anak.

Terdapat dua macam hukuman kebiri yang telah diterapkan di berbagai negara, yaitu kebiri fisik dan kebiri kimia.

Kebiri fisik dilakukan dengan mengamputasi testis pelaku kekerasan seksual terhadap anak sehingga pelaku akan kekurangan hormon testosteron yang mengurangi dorongan seksual dalam dirinya.

Adapun kebiri kimia dilakukan dengan memasukkan zat kimia antiandrogen yang berguna untuk melemahkan hormon testosteron. Apabila hormon testosteron melemah, maka hasrat seksual pelaku akan berkurang.

Adapun beberapa negara yang telah menerapkan hukuman tersebut pada pelaku kekerasan seksual terhadap anak yaitu Ukraina (2019), Inggris (2019), Amerika Serikat (2019), Kazakhstan (2018), Rusia (2011), Korea Selatan (2011), dan Polandia (2010).

Apakah hukuman kebiri kimia setimpal dengan dampak dari perbuatannya? …

“Terdapat banyak pro dan kontra terhadap penetapan hukuman kebiri kimia kepada pelaku kekerasan seksual terhadap anak, terutama dalam konteks Hak Asasi Manusia (HAM)”, ujar Layla salah seorang mahasiswi dari Universitas yang ada di Malang saat di konfirmasi oleh awak media, Selasa (19/1/2021).

Seperti yang diketahui bahwa hukuman itu dilakukan dengan cara memasukkan zat kimia antiandrogen ke dalam tubuh pelaku baik melalui suntikan atau obat.

Hal tersebut berupa suntik antiandrogen dan diketahui mempunyai dampak negatif seperti dapat mempercepat penuaan tubuh, mengurangi kerapatan massa tulang sehingga tulang keropos dan memperbesar risiko patah tulang, mengurangi massa otot, dan meningkatkan lemak yang menaikkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.

Efek samping dari kebiri kimia inilah yang mendasari anggapan para pihak kontra bahwa hukuman itu merupakan hukuman yang kejam bahkan mengandung unsur penyiksaan sehingga melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).

Namun, jika dilihat dari sisi korban, anak yang menjadi korban kekesaran seksual mendapatkan pengalaman yang membekas bahkan bisa menjadi trauma jangka panjang dari tindakan pelaku yang korban rasakan.

“Menurut temuan penelitian Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (B2P3KS), dampak bagi anak yang menjadi korban kekerasan seksual adalah emosi tidak stabil, cenderung diam, tidak mau keluar rumah, depresi, ketakutan, cemas, suka melamun, malu dan, minder”, jelas Layla.

Oleh karena itu, tidak heran apabila terdapat pihak yang mendukung penetapan hukuman kebiri kimia ini sebagai salah satu upaya untuk mengurangi jumlah kasus kejahatan kekerasan seksual terhadap anak.

Akan tetapi, memberikan hukuman itu kepada pelaku dirasa tidak begitu setimpal dengan efek jangka panjang yang akan dirasakan oleh korban yang masih berstatus anak-anak.

Terlebih lagi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyatakan bahwa hukuman tersebut belum bisa menjamin hilangnya hasrat dan potensi pelaku untuk melakukan kejahatan yang sama.

Selain itu, perlu diketahui juga bahwa kebiri kimia ini tidak memberikan efek permanen sehingga apabila pemberian zat antiandrogen dihentikan maka efek dari zat tersebut akan hilang secara perlahan.

Hal tersebut mengundang pertanyaan,

“Apakah hukuman kebiri kimia ini setimpal dengan apa yang berdampak pada korban?”…

Mengingat bahwa belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan kebiri kimia bisa menimbulkan efek jera pada pelaku. Mengesampingkan hal tersebut, sejumlah pihak telah mengapresiasi tindakan pemerintah dalam penetapan hukuman kebiri kimia pada pelaku kekerasan seksual terhadap anak karena tindakan ini menandakan bahwa adanya kepedulian pemerintah terhadap korban.

Namun, akan lebih baik lagi apabila pemerintah juga berfokus pada pemulihan psikologis anak yang menjadi korban selagi mencari jawaban dari pertanyaan.

“Apakah hukuman kebiri kimia ini setimpal dengan apa yang berdampak pada korban?… Sumber : Sum/Lay

Journalist : Nang

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker