Opini

14 Februari, Sugeng ambal Warso Romo Yai Hadratusy Syeh Hasyim Asyari

Opini – Metroliputan7.com, Sementara beberapa sumber lain menerangkan bahwa mBah K. H. Muhammad Hasyim Asy’ari dilahirkan pada tanggal 10 April 1875 (24 Dzulqaidah 1287H) dan wafat pada 25 Juli 1947, riwayat Keluarga
K.H. M. Hasyim Asy’ari adalah putra ketiga dari 11 bersaudara.

Ayahnya bernama Kyai Asy’ari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di bagian selatan kota Jombang, Ibunya bernama Halimah, dari garis ibu, Hasyim merupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang).

Kyai Hasyim adalah putra ketiga dari 11 bersaudara.

Namun keluarga Hasyim adalah keluarga Kyai.

Kakeknya, Kyai Utsman memimpin Pesantren Nggedang, sebelah utara Jombang. Sedangkan ayahnya sendiri, Kyai Asy’ari, memimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang, dua orang inilah yang menanamkan nilai dan dasar-dasar Islam secara kokoh kepada Hasyim.

Silsilah Nasab
Merunut kepada silsilah beliau, melalui Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin) K.H. M. Hasyim Asy’ari memiliki garis keturunan sampai dengan Rasul Allah SAW, dengan silsilah sebagai berikut:

Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin)
Abdurrohman / Jaka Tingkir (Sultan Pajang)
Abdul Halim (Pangeran Benawa)
Abdurrohman (Pangeran Samhud Bagda)
Abdul Halim
Abdul Wahid
Abu Sarwan
K.H. Asy’ari (Jombang)
K.H. M. Hasyim Asy’ari (Jombang)
Berdasarkan pada catatan nasab Sa’adah Ba’lawi Hadramaut, silsilah dari Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin) merupakan keturunan yang bertemu pada Rasul Allah SAW, dengan silsilah sebagai berikut:
Husain bin Ali ra.
Ali Zainal Abidin ra.
Muhammad al-Baqir
Ja’far ash-Shadiq
Ali al-Uraidhi
Muhammad an-Naqib
Isa ar-Rumi
Ahmad al-Muhajir
Ubaidullah
Alwi Awwal
Muhammad Sahibus Saumiah
Alwi ats-Tsani
Ali Khali’ Qasam
Muhammad Shahib Mirbath
Alwi Ammi al-Faqih
Abdul Malik (Ahmad Khan)
Abdullah (al-Azhamat) Khan
Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan)
Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar)
Maulana Ishaq, dan
‘Ainul Yaqin (Sunan Giri)
Latar Pendidikannya
Kyai Hasyim sejak anak-anak, bakat kepemimpinan dan kecerdasan memang sudah terlihat oleh keluarga, Hasyim kecil kerap tampil sebagai pemimpin dalam komunitas sebaya.

Ketika usianya menginjak tahun ketigabelas, Hasyim kecil sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang dirinya.

Kyai Hasyim belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kakak Utsman, yang juga pemimpin Pesantren Nggedang Jombang, pada usia 15 tahun Kyai Hasyim meninggalkan kedua orangtuanya untuk berkelana memperdalam ilmu ke berbagai pesantren lain.

Mula-mula ia menjadi santri di Pesantren Wonokoyo, Probolinggo.

Kemudian pindah ke Pesantren Langitan, Widang, Tuban. Pindah lagi ke Pesantren Trenggilis, Semarang.

Belum puas dengan berbagai ilmu yang diterimanya, Hasyim remaja itu melanjutkan nyantri di Pesantren Kademangan, Bangkalan di bawah asuhan Syaikhuna K.H. Cholil Bangkalan, Madura, dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo di bawah asuhan Kyai Ya’qub, di pesantren inilah, Hasyim muda merasa benar-benar menemukan sumber Islam yang diinginkan.

Kyai Ya’qub dikenal sebagai ulama yang berpandangan luas dan ‘alim dalam ilmu agama.

Setidaknya lima tahun Hasyim muda menyerap ilmu di Pesantren Siwalan ini.

Kyai Ya’qub pun kesengsem berat pada pemuda yang cerdas dan ‘alim itu, sehingga Hasyim bukan saja mendapat ilmu, melainkan juga isteri.

Ketika itu Kyai Hasyim baru berumur 21 tahun. Beliau dinikahkan dengan Chadidjah, salah satu puteri Kyai Ya’qub. Tidak lama setelah menikah, Hasyim bersama isterinya berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji pada tahun 1893, dan menetap selama tujuh tahun di sana guna berguru pada beberapa syaikh dari Indonesia dan Arab yang terkenal seperti Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudh at-Tarmasi, Syaikh Ahmad Amin al-Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmatullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As-Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi.

Kemudian kyai Hasyim kembali ke tanah air setelah isteri dan anaknya meninggal.
Tahun l899 pulang ke Tanah Air, Hasyim mengajar di pesanten milik kakeknya, Kyai Usman.

Tak lama kemudian ia mendirikan Pesantren Tebuireng, Jombang.

Kyai Hasyim bukan saja Kyai ternama, melainkan juga seorang petani dan pedagang yang sukses, tanahnya puluhan hektar, dua hari dalam seminggu, biasanya Kyai Hasyim istirahat tidak mengajar.

Saat itulah ia memeriksa sawah-sawahnya.

Kadang juga pergi Surabaya berdagang kuda, besi dan menjual hasil pertaniannya. Dari bertani dan berdagang itulah, Kyai Hasyim menghidupi keluarga dan pesantrennya.

Silsilah Keilmuannya

KH Muhammad Saleh Darat, Semarang
KH Cholil Bangkalan
Kyai Ya’qub, Sidoarjo
Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau
Syaikh Mahfudz At-Tarmasi
Syaikh Ahmad Amin Al Aththar
Syaikh Ibrahim Arab
Syaikh Said Yamani
Syaikh Rahmaullah
Syaikh Sholeh Bafadlal
Sayyid Abbas Al Maliki
Sayyid Alwi bin Ahmad As Segaf
Sayyid Husain Al Habsyi
Sayyid Sulthan Hasyim al-Daghistani
Sayyid Abdullah al-Zawawi
Sayyid Ahmad bin Hasan al-Atthas
Sayyid Abu Bakar Syatha al-Dimyathi
Memperoleh ijazah dari Habib Abdullah bin Ali Al Haddad.

Muridnya
Ribuan santri menimba ilmu kepada Kyai Hasyim dan setelah lulus dari pesantren Tebuireng, Jombang, tidak sedikit di antara santri Kyai Hasyim yang kemudian tampil sebagai tokoh dan ulama kondang dan berpengaruh pada masyarakat luas. Di antara mereka adalah:

  1. K.H. Abdul Wahab Hasbullah (pendiri Pesantren Tambak Beras, Jombang);
  2. K.H. Bisri Syansuri (pendiri Pesantren Denanyar, Jombang);
  3. K.H. R As’ad Syamsul Arifin;
  4. K.H. Wahid Hasyim (puteranya);
  5. K.H. Achmad Shiddiq;
  6. Syekh Sa’dullah al-Maimani (Mufti di Bombay, India);
  7. Syekh Umar Hamdan (ahli hadits di Makkah);
  8. Al-Syihab Ahmad ibn Abdullah (Syiria);
  9. K.H. R Asnawi (Kudus);
  10. K.H. Dahlan (Kudus);
  11. K.H. Shaleh (Tayu);

Keturunannya :

Berikut disampaikan silsilah keturunan beliau sampai dengan tingkat cucu:

Nyai Khodijah, istri pertama yang merupakan putri dari Kyai Ya’qub, Sidoarjo. Meninggal dunia sewaktu > Kyai Hasyim Asy’ari menuntut ilmu di Mekkah
Nyai Nafiqoh, istri kedua, setelah istri pertama wafat, yaitu putri dari Kyai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun.

Putra-putri dari Nyai Nafiqoh:

  1. Hannah
  2. Khoiriyah
  3. Aisyah
  4. Azzah
  5. Abdul Wahid atau sering juga dipanggil sebagai Wahid Hasyim
  6. Abdul Hakim (Abdul Kholik)
  7. Abdul Karim
  8. Ubaidillah
  9. Mashuroh
  10. Muhammad Yusuf
    Nyai Masruroh, istri ketiga, setelah istri kedua wafat, yaitu putri dari Kyai Hasan, pengasuh pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri, dari pernikahan ini, Kyai Hasyim dikarunia 4 orang putra-putri, yaitu:
  11. Abdul Qodir
  12. Fatimah
  13. Khotijah
  14. Muhammad Ya’kub
    Jasa Bagi Ahlussunnah wal Jamaah: Komite Hijaz, sebagai Benteng Islam Tradisional
    Mendirikan Pesantren Tebuireng
    Tahun 1899, Kyai Hasyim membeli sebidang tanah dari seorang dalang di Dukuh Tebuireng.

Letaknya kira-kira 200 meter sebelah Barat Pabrik Gula Cukir, pabrik yang telah berdiri sejak tahun 1870, Dukuh Tebuireng terletak di arah timur Desa Keras, kurang lebih 1 km.

Disana beliau membangun sebuah bangunan yang terbuat dari bambu (Jawa: tratak) sebagai tempat tinggal, dari tratak kecil inilah embrio Pesantren Tebuireng dimulai, Kyai Hasyim mengajar dan salat berjamaah di tratak bagian depan, sedangkan tratak bagian belakang dijadikan tempat tinggal.

Saat itu santrinya berjumlah 8 orang, dan tiga bulan kemudian meningkat menjadi 28 orang.

Setelah dua tahun membangun pesantren Tebuireng, Jombang, Kyai Hasyim kembali harus kehilangan istri tercintanya, Nyai Khodijah.

Saat itu perjuangan mereka sudah menampakkan hasil yang menggembirakan.

Kyai Hasyim kemudian menikah kembali dengan Nyai Nafiqoh, putri Kyai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun, dari pernikahan ini Kyai Hasyim dikaruniai 10 anak, yaitu: (1) Hannah, (2) Khoiriyah, (3) Aisyah, (4) Azzah, (5) Abdul Wahid, (6) Abdul Hakim (Abdul Kholik), (7) Abdul Karim, (8) Ubaidillah, (9) Mashuroh, (10) Muhammad Yusuf.
Pada akhir dekade 1920an, Nyai Nafiqoh wafat sehingga Kyai Hasyim menikah kembali dengan Nyai Masruroh, putri Kyai Hasan, pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri, dari pernikahan ini, Kyai Hasyim dikarunia 4 orang putra-putri, yaitu: (1) Abdul Qodir, (2) Fatimah, (3) Khotijah, (4) Muhammad Ya’kub.

Masukkan script iklan disini
Peran Beliau dalam Kemerdekaan Indonesia
Perjuangan dan Penjajahan Karena pengaruhnya yang demikian kuat itu, keberadaan Kyai Hasyim menjadi perhatian serius penjajah.

Baik Belanda maupun Jepang berusaha untuk merangkulnya, di antaranya ia pernah dianugerahi bintang jasa pada tahun 1937, tapi ditolaknya, justru Kyai Hasyim sempat membuat Belanda kelimpungan.

Pertama, ia memfatwakan bahwa perang melawan Belanda adalah jihad (perang suci) Belanda kemudian sangat kerepotan, karena perlawanan gigih melawan penjajah muncul di mana-mana.

Kedua, Kyai Hasyim juga pernah mengharamkan naik haji memakai kapal Belanda, fatwa tersebut ditulis dalam bahasa Arab dan disiarkan oleh Kementerian Agama secara luas.

Keruan saja, Van der Plas (penguasa Belanda) menjadi bingung, karena banyak ummat Islam yang telah mendaftarkan diri kemudian mengurungkan niatnya.

Namun sempat juga Kyai Hasyim mencicipi penjara 3 bulan pada l942, tidak jelas alasan Jepang menangkap Kyai Hasyim.

Mungkin, karena sikapnya tidak kooperatif dengan penjajah.

Uniknya, saking khidmatnya kepada gurunya, ada beberapa santri minta ikut dipenjarakan bersama Kyainya itu.

Masa awal perjuangan Kyai Hasyim di Tebuireng bersamaan dengan semakin represifnya perlakuan penjajah Belanda terhadap rakyat Indonesia.

Pasukan Kompeni ini tidak segan-segan membunuh penduduk yang dianggap menentang undang-undang penjajah.

Pesantren Tebuireng, Jombang pun tak luput dari sasaran represif Belanda.

Penulis : Idham

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker