Surabaya

Terkontaminasi Mikroplastik, Kali Porong Ancam Keamanan Pesisir Sidorajo.

Surabaya – Metroliputan7.com, Buruknya pengelolaan  lingkungan kali Porong  dan managemen  penanganan sampah  plastik di Kabupaten  Sidoarjo membuat Kali Porong tercemar Partikel Mikroplastik(PM). Sejak Januari hingga Februari 2021 sebanyak lima  mahasiswi jurusan  biologi Universitas Islam Negeri Sunan  Ampel (UINSA) melakukan Telisik Mikroplastik kali Porong, meneliti ikan, sedimen, udang, ikan dan Kupang.

“Temuan mikroplastik tertinggi ditemukan di Segmen Hilir di daerah  Tlocor sebesar 79 PM/100 liter, di rolak songo ditemukan 73/100 liter sedangkan di mindi ditemukan 63 PM/100 liter,” ungkap Bella Seftianingrum,  Mahasiswi biologi semester VI UINSA Surabaya, Selasa (16/2).

Menurutnya, bahwa  kandungan mikroplastik  kali porong lebih tinggi  jika dibandingkan dengan Bengawan Solo yang mencapai 38-76 PM/100 Liter. Keberadaan mikroplastik di perairan mengancam kehidupan biota karena ukuran mikroplastik (1 mikrometer –5000 mikrometer) seukuran dengan plankton yang menjadi makanan utama biota perairan (ikan, udang dan kupang/kerang), sehingga keberadaan mikroplastik diperairan dianggap  sebagai makanan oleh  biota perairan. Padahal  mikroplastik adalah  polimer yang terbuat dari senyawa polimer dan bahan tambahan atau zataditif yang beracun.

Mikroplastik sebagian  mengisi kolong air dan  terbawa arus sungai  yang membawa hingga menuju lautan. Namun sebagian mikroplastik akan mengendap dalam sedimen. “ Sedimen yang saya teliti diambil di  rolak songo, mindi dan tlocor, kandungan PM tertinggi ditemukan di tlocor sebanyak 83 PM/40 liter, tingginya PM di tlocor karena lokasinya landai sehingga sedimen menumpuk,” ungkap Linda Setya Rahmawati, mahasiswi biologi semester VI UINSA Surabaya.

Pihaknya mengkhawatirkan tingginya kandungan mikroplastik dalam sedimen yang menjadi habitat dan sumber makanan bagi berbagi jenis biota air salah satunya adalah kupang. “ Jika dibandingkan dengan penelitian lainnya disepanjang selat madura, temuan mikroplastik di tlocor lebih tinggi dibandingkan dengan muara kali lamong di Gresik, Lamongan, Socah dan Kamal di Bangkalan,” ungkap Linda Setya Rahmawati.

Harus ada upaya pengendalian  kandungan mikroplastik  diperairan dan sedimen  karena akan mengancam keamanan pangan laut (seafood) yang banyak dihasilkan oleh kegiatan tambak maupun penangkapan ikan di perairan terbuka.

Mengatasi hal itu, Team Telisik Mikroplastik Kali Porong Mahasiswi biologi UINSA Surabaya meminta pengelola kali porong (Kementerian  PUPR  dan  Kementerian  Lingkungan Hidup) untuk menetapkan baku mutu kadar mikroplastik  dalam air sungai dan dalam air limbah industri, menetapkan batas aman mikroplastik dalam seafood. 

Selain itu mendorong kebijakan pengurangan sampah plastik, serta mendorong pengelolaan sampah yang baik disepanjang Kali Porong dengan membangun fasilitas tempat sampah, sementara pada setiap desa di sepanjang Kali Porong agar masyarakat tidak membuang sampahnya ke badan air atau kali porong.

Merujuk pada data BPS 2013 bahwa Sidoarjo memiliki kawasan tambak dengan luas 15.513.41 Ha atau 30% dari luar total tambak di Jawa Timur yang mencapai 51.286.71 Ha. Keberadaan tambak  menopang 3.257 orang  petambak dan 3.246  orang pendega.  Komoditas unggulan tambak sidoarjo adalah Udang Windu, Udang Vanname, bandeng dan tawes. Salah satu  penting penyokong  kualitas tambak dan  perairan pesisir adalah  kualitas air Kali Porong yang mengalir ke pesisir Sidoarjo. 

 

Journalist : Hens

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker