Spread the love

Opini – Metroliputan7.com, Jika Anda punya ‘dendam kesumat’ ingin melihat istana Aladdin yang selama ini hanya ada dalam mimpi masa kecil, datanglah ke Masjid Istiqlal di malam hari.

Dari balik pagar Anda akan melihat sebuah bangunan mirip istana 1001 malam, dengan lampu merah menyala mengepung kubahnya.

Pilar-pilar raksasa di masjid itu seolah mengeluarkan aurora, yang sejatinya adalah pantulan cahaya yang memancar dari lampu-lampu taman yang berdiri elegan, di tengah taman ada kolam kecil tak ubahnya Jalatunda yang tak henti memercikkan air di permukaannya yang pipih.

Di ujung timur masjid, sebuah menara yang sejak lama berdiri menghadap Gereja Katedral juga dipercantik, Menara yang bertahun-tahun terlihat kusam itu kini dibungkus cahaya jingga di malam hari, yang kilaunya tegak lurus dengan langit.

Kontras dengan gelap di sekitarnya, cahaya benderang itu seolah menciptakan Bifrost yang menghubungkan bumi dengan langit pertama, tempat para malaikat merosot untuk menari sambil bertasbih di bibir Jalatunda. Istiqlal di malam hari adalah potongan surga yang kemarin jatuh ke bumi.

Setelah 42 tahun berdiri dan menjadi masjid terbesar di Asia Tenggara, baru kali ini Masjid Istiqlal yang terletak di Jakarta Pusat bersolek. Biaya bersolek bangunan yang berdiri di bekas taman Wilhelmina ini mahal: Rp 511 miliar.

Ada 1000 pekerja dikerahkan untuk memoles masjid yang dulu dirancang oleh arsitek Kristen bernama Frederich Silaban itu.

Angka 1000 mengingatkan orang pada legenda Bandung Bondowoso, yang membangun 1000 candi dalam semalam sambil bermimpi esok hari bakal menggendong paha Roro Jonggrang dengan sebelah tangan.

Siapa tak senang Istiqlal dipoles? Jika dulu jamaah sulit sekali memarkir mobil, kini mereka dimanja oleh lokasi parkir luas di basemen dua tingkat, di atas basemen itu dibangun kios-kios kecil yang ditata rapi untuk pedagang kaki lima yang dulu berdagang semrawutan di pelataran masjid.

Mereka tidak digusur hanya karena Istiqlal direnovasi sebab pemangku kebijakan di republik sangat sadar, para pengusaha kecil dan menengah ini adalah bagian dari jaringan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang menjadi pahlawan ekonomi di masa krisis ekonomi 1998.

Berbeda dengan sebagian konglomerat superkaya yang kala itu melarikan modal mereka ke luar negeri ketika krisis melanda negeri ini, para penggiat UMKM itu justru siap bangkit atau mati di bumi pertiwi.

Saat ini ada 56 juta UMKM berkiprah di Indonesia, jatuh bangun memperkuat fondasi perekonomian nasional kita.

Bukan hanya kaum Muslim yang berbahagia Istiqlal dipersolek, saudara-saudara di luar Islam, khususnya kaum Nashrani, sepatutnya juga senang.

Ini karena di bawah taman-taman yang terlihat indah di pelataran Istiqlal ternyata terkubur sebuah terowongan yang menghubungkan antara Istiqlal dengan Katedral yang juga berdiri megah di hadapannya.

Terowongan itu sengaja dibangun untuk menjadi lorong silaturahim antara anak bangsa dengan dua agama berbeda, Islam dan Kristen.

Mereka tampaknya menganut dua agama berbeda, tapi sejatinya memeluk fondasi agama yang sama, yang mengakar dari Bapak Tauhid yang sama, Nabi Ibrahim alaihissalam.

Masjid Istiqlal memang belum dibuka untuk umum meski renovasinya telah diresmikan oleh Presiden Jokowi pada Kamis, 7 Januari 2021. Tapi itu tak berarti salat berhenti.

Salat rawatib berjamaah dan salat Jumat tetap dilakukan, tapi dilakukan terbatas oleh pengurus masjid dan pekerja Muslim yang merenovasi masjid.

Jika pandemi Covid-19 berlalu, masjid yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Bung Karno pada 24 Agustus 1961 itu akan kembali dibuka untuk publik.

Jika tempat ibadah itu telah dibuka kembali, ajaklah sanak famili Anda mengunjungi masjid yang mampu menampung 200.000 jamaah itu.

Katakan bahwa masjid itu tidak boros energi karena sebagian teknologinya menggunakan energi Matahari, ajak juga wisatawan lokal bahkan turis mancanegara untuk menyaksikan bangunan raksasa ini agar mereka melihat demikianlah Islam, agama yang mengajarkan kecintaan pada sesama manusia, kebersihan, keindahan, penghematan, juga keteraturan.

Ketika nanti Anda berkeliling masjid lalu ada turis asing bertanya siapakah yang membangun Masjid Istiqlal ini, sebutlah dengan bangga nama Presiden Soekarno.

Jelaskan bahwa masjid raksasa ini dibangun ketika usia republik masih sangat muda, baru 16 tahun.

Bung Karno saat itu sadar, kendati negeri ini berangkat dari kebhinekaannya harus dibangun di atas fondasi nasionalisme yang kuat, tapi mayoritas penduduk negeri ini tatap saja Muslim.

Itulah sebabnya sebuah masjid raksasa harus dibangun agar rakyat Indonesia menjadi bangsa yang nasionalis sekaligus religius.

Persoalan yang agak pelik baru muncul ketika ada turis asing yang lumayan paham sejarah Indonesia bertanya: tapi jika benar Soekarno punya visi futuristik menjadikan rakyat Indonesia bangsa yang nasionalis sekaligus religius, mengapa di akhir hayatnya menempel stigma bahwa ia terlibat partai terlarang, partai yang oleh banyak orang dipahami antiagama?

Terhadap turis yang bertanya kritis seperti itu, sedapat mungkin Anda jawab saja dengan elegan. Tapi, jika dia terus mendesak Anda, jawab saja dengan singkat: ‘’Ya, itulah salah satu paradoks bangsa kami.’’

Setelah itu, lakukan zig-zag dengan menjelaskan bahwa setelah 42 tahun berdiri, baru kali ini Masjid Istiqlal direnovasi besar-besaran dan itu dilakukan di era Presiden Jokowi.

Tapi ingat, pengalihan topik ini belum tentu sesederhana yang Anda duga. Sangat mungkin ada turis bertanya: ‘’Siapa Jokowi? Banyak sekali kami baca di media sosial dia anti-Islam, gemar melakukan kriminalisasi ulama, bahkan mendukung kebangkitan PKI? Bagaimana mungkin dia anti-Islam dan lain-lain itu tapi dia pula dengan kebijakannya merenovasi masjid besar ini?’’

Nah, sesaat sebelum menjawab pertanyaan yang sangat mungkin muncul dari para turis asing yang Anda ajak keliling itu, saran saya tariklah nafas pelan-pelan dulu, pegang kepala Anda erat-erat, lalu tatap sekeliling Anda dan pastikan dunia tidak terbalik. Jika Anda sudah yakin bahwa bumi tempat Anda berpijak tidak terbalik, otak Anda juga masih terpasang di posisi semula sesuai desain yang Allah tetapkan, jawablah para turis yang bertanya itu pelan-pelan dan agak berbisik:

‘’Sssssttttt ….., dulu berita itu ditulis oleh orang-orang yang melihat dunia ini secara terbalik. Jokowi baru berusia empat tahun ketika G-30-S PKI meletus, bagaimana mungkin dia dituduh terlibat PKI? Otak mereka pasti terbalik.’’

‘’Ya, tapi saya juga baca di media sosial Jokowi anti-Islam dan gemar melakukan kriminalisasi ulama?’’

Jika si turis ini masih bertanya seperti itu, sayangi dia, sabar dan jangan marah. Tunjukkan bahwa masyarakat Indonesia adalah bangsa yang santun. Turis itu hanya korban grup-grup diskusi di media sosial yang layak mendapat informasi yang benar.

Jelaskan saja, jika benar Jokowi anti-Islam, saat ini menurut Direktorat Pondok Pesantren Kementerian Agama Republik Indonesia, jumlah pesantren terdaftar di Indonesia mencapai 27.722 unit dihuni oleh 4.173.494 santri aktif. Puluhan ribu pesantren itu dipimpin oleh para ulama. Tanyakan saja, siapa di antara ulama itu yang dikriminalisasi oleh Jokowi?

Sampaikan juga pada turis-turis asing itu, jika tuduhan Jokowi anti-Islam dan gemar melakukan kriminalisasi ulama itu benar, mustahil presiden asal Solo itu mau mengalokasikan anggaran lebih dari setengah triliun untuk merenovasi Masjid Istiqlal, lalu menggelontorkan dana program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk pesantren sebesar Rp 2,6 triliun pada 2020.

Dana itu dikucurkan dalam bentuk Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) kepada 21.173 pesantren, 62.153 lembaga Madrasah Diniyah Takmiliyah, serta 112.008 Lembaga Pendidikan Al-Qur’an agar mereka dapat memasuki masa adaptasi kebiasaan baru akibat pandemi Covid-19.

‘’Well …. If it is true what you have explained about, how could Mr. Jokowi ….’’

‘’Sssssstttt … sir, sebaiknya kowe jangan ikut-ikutan terlalu lama tinggal di dalam gua. Sesekali terbanglah di siang hari, tataplah Matahari bersinar. En kowe harus sadar, gua itu gelap, pengap, dan menyesakkan. Terlalu lama tinggal di sana membuat kowe punya otak jadi ikut terbalik juga.’’

Ha-ha-haaa … Jangan lupa tertawa saat menyampaikan penjelasan seperti itu. Orang yang terlalu lama menutup akal sehat biasanya antidata, cepat marah, dan gemar menduga-duga …

Penulis : Idham

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *