Opini

Nafsu Kekuasaan Yang Abadi

Opini – Metroliputan7.com, Demi ambisinya yang buas bapaknya akan kekuasaan demi keinginan yang belum tercapai dan anaknya pun jadi korban sehingga karir anaknya hancur dan disuruh berhenti, dikarenakan bapaknya ingin menjadi Cagub JKT.

Bapaknya berfikir jika anaknya menang dan menjadi Gubernur maka itu hanya untuk sebagai batu loncatan saja, selanjutnya ingin menjadi Capres, seperti Jokowi yang menjadi Gubernur kemudian jadi Capres dan menjadi Presiden.

Teryata tidak pernah berfikir bahwa jalanannya takdir itu tidak pernah sama dan anaknya gagal total.

Skenariopun berantakan, meskipun SBY sudah keluar uang sangat banyak untuk membayar Pasukan Nasi Bungkus untuk berdemo Full sara, demo berjubah agama.

SBY nafsu buas kekuasaannya tidak pernah berkurang, lalu satu keluarganya dia rekayasa menjadi penguasa Partai, menjadi partai keluarga.

SBY itu sewaktu menjadi Capres dan kemenangannya itu karena memakai Politik busuk Playing Victim, sehingga masyarakat tertipu, dan sekarang Partainya terbelah, kisruh dihantam masalah.

Semua itu hasil dari apa yang ditanam, jika menanam pohon kebaikan maka buahnya juga Kebaikan dan jika menanam pohon Kejahatan maka buahnya juga Kejahatan.

Cepat atau lambat kebenaran pasti datang, hanya menunggu waktu saja, Tuhan pasti membuktikannya.

SBY hanyalah salah satu contoh bahwa nafsu Kekuasaan itulah yang Abadi.

Kekuasaan tidaklah pernah abadi, nafsu kekuasaan itulah yang abadi.

SBY, Amin, Din, JK, Gatot, dll, mereka semua sudah berumur tua tetapi tetap buas dengan nafsu kekuasaan.

Kebuasan mereka telah membutakan hati mereka meskipun mereka sudah tua, bukti bahwa nafsu kekuasaan itulah yang abadi, sedangkan kekuasaan itu sendiri tidak pernah abadi.

Kekuasaan tidak pernah abadi, sejarah Dunia telah membuktikan, dari sebelum Masehi sampai sekarang, sehebat dan sekuat apapun kekuasaan, Yunani, Romawi, Viking, Alexander The Great, Jenghis/Genghis Khan, Kerajaan2 China, Kerajaan2 India, kerajaan2 Indonesia, semuanya pada akhirnya Runtuh/Hancur dari Kejayaan, hanya tinggal kenangan, cerita dibuku sejarah.

Pangeran membunuh Rajanya demi kekuasaan, menyerang kerajaan lain demi menambah luasnya kekuasaan, peperangan demi peperangan, tangan Dunia penuh darah, semua itu demi nafsu kekuasaan yang abadi, sedangkan kekuasaan itu sendiri tidak pernah abadi.

Nafsu kekuasaan itulah yang abadi.

Tidak ada jabatan di Dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian, kekuasaan tidak pernah abadi, nafsu kekuasaanlah yang abadi.

Tetap dipenjara nafsu itu atau keluar dari penjara nafsu itu.

Penulis : Idham
Publisher : Nang

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker