Surabaya

Kelurahan Babatan Surabaya Tidak Merespon Keluhan Masyarakat

Surabaya || Metroliputan7.com 

Suwiryo (64) warga Dk Karangan Gang III/14, Kel. Babatan, Kec. Wiyung, merupakan seorang anak yang selama bertahun-tahun memperjuangkan hak waris atas nama ibunya Tasemi ( 84 tahun ) yang diduga telah beralih nama tanpa sepengetahuan ahli waris. 

Ibu Tasemi sendiri merupakan anak ke 4 diantara 6 bersaudara dari pasangan Bapak Dasemo dengan Ibu Kiyar B. Kosidin. Diantara 6 saudara tersebut diantaranya, Suparmin, Rochmat, Dasi, Tasemi, Suriati dan Hj. Djumiati.

Menurut Suwiryo dirinya sudah bertahun-tahun memperjuangkan hak orang tuanya dalam kepemilikan hak waris tanah yang sudah dibagikan oleh kakeknya.

“Mulai sejak tahun 2015 saya memperjuangkan hak waris ibu saya melalui pihak kelurahan, namun hingga saat ini, belum ada kejelasan mas,” ujar Suwiryo kepada media ini Senin ( 23/03/2021 ) siang.

Lanjut Suwiryo, ketika saya mendatangi kantor kelurahan untuk melihat riwayat tanah tersebut, kehadiran saya seperti tidak digubris dan semua petugas kabur, seperti ada yang ditutup-tutupi.

“Padahal saya hanya meminta untuk dibukakan riwayat tanah yang berlokasi di Dk Karangan, RT 01 RW 03, Kel. Babatan, Kec. Wiyung, Kota Surabaya. karena kok bisa menjadi sertifikat atas nama salah satu ahli waris,” ujarnya di Kel. Babatan,” kata kesalnya.

Sementara Itu, Kuasa Hukum dari Suwiryo yakni, Bapak Umarto mengatakan, sejak tahun 2015, pihak keluarga mendatangi kelurahan Babatan untuk meminta surat riwayat tanah, namun sampai sekarang tidak bisa dipenuhi oleh pihak kelurahan.

“Tanah tersebut, tercatat di kelurahan dengan Letter C no. 80 Persil 77 dengan luas 1.470 meter persegi. Karena surat atas nama Ibu Dasi, tidak jelas perolehannya. Maka dari itu, kita minta Ibu Lurah untuk memediasi pihak-pihak ahli waris,” ucapnya.

Umar juga mengantakan, sebenarnya di Induk suratnya, tertera tanah seluas 2323 meter persegi yang dibagi menjadi dua. Atas nama Sutrisno dan Ibu Dasi. 

“Siapa Sutrisno, kita tidak tahu. Maka dari itu, agar jelas dan gamblang, kita meminta hal tersebut kepada Ibu Lurah, terlebih surat tanah ini sudah di sertifikatkan tanpa adanya persetujuan ahli waris yang lain,” ungkapnya.

Dengan dapat dimediasi dan dibuka kerawangan Letter C tanah tersebut, diharapkan, dapat mengungkap apa yang sebenarnya terjadi, sehingga tidak ada lagi kerancuhan.

“Semoga saja, bisa diselesaikan ditisini saja dan tidak perlu ketingkat yang lebih atas. Kita hanya berharap, pihak-pihak ahli waris, mendapatkan hak-haknya sesuai dengan yang diwariskan oleh pewaris yakni, Bapak Dasemo dengan Ibu Kiyar B. Kosidin,” harapnya. 

Sementara itu, Lurah Babatan Ibu Novi Tri Hartatiningsih saat akan dikonfirmasi oleh awak media lebih menutup diri dan tidak memperkenankan awak media untuk melakukan konfirmasi. 

Journalist : Bas//

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker