Spread the love

Opini – Metroliputan7.com.- BNPT dan Densus 88 sebut kemenangan Taliban dipakai untuk sarana propaganda kelompok terorisme dinegara kita. Propaganda ini tidak hanya dilakukan oleh kelompok JI, JAD dan MIT. Kelompok tsb menjadikan kemenangan Taliban sebagai momen untuk bangkit dengan narasi atas nama agama. Peristiwa di Afghanistan menjadi inspirasi bagi mereka yang menganggap pemerintah thogut untuk mengambil alih kekuasaan.
( 28 Agustus 2021 ).

Pada 7/3/2019 pemerintah Pakistan ambil alih 400 lembaga pendidikan yang dioperasikan kelompok ekstremis. Pemerintah Pakistan juga menghapus ajaran wahabi dari madrasah, mereformasi madrasah2 dan membawa institusi2 tsb agar sejalan dengan sekolah konvensional dengan melarang ujaran kebencian dan narasi2 ekstremis.
Menteri pendidikan Pakistan pd 19/7/2019 menyatakan bahwa ada 30.000 madrasah di Pakistan telah menyediakan tempat berlindung bagi penyebar ajaran ekstremis.
Negara Pakistan sudah lama resmi melarang kelompok Hizbut Tahrir ( Indonesia : HTI ), dan bagi siapa yg kedapatan menyebarkan brosur HT khilafah maka akan langsung ditangkap ditahan dan dikenakan UU terorisme.
Di Pakistan anak2 miskin yg tidak mampu sekolah diajak masuk pesantren wahabi salafi secara gratis dan diajarkan paham radikal, paham ekstrim.
Pemerintah Pakistan baru sadar, Meskipun sudah terlambat, sudah parah dan menjadi negara gagal.

Mesir, Arab Saudi, Bahrain, UEA dan Al Azhar secara resmi menyatakan bahwa kelompok Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok teroris dan resmi dilarang. Tempat asalnya sendiri yaitu negara Mesir dengan tegas menyatakan kelompok Ikhwanul Muslimin yg sudah lama berdiri itu sebagai kelompok teroris, resmi dilarang dan 12 tokohnya dihukum mati.
Sedangkan dinegara kita kelompok Ikhwanul Muslimin bebas buat partai, selalu mempolitisi agama dan memprovokasi dan sekarang menjadi pendukung Taliban.

Polisi Diraja Malaysia ( PDRM ) mengesahkan bahwa paham terorisme bermula dari perkembangan ideologi salafi wahabi dan siapa saja yg menyebarkan paham wahabi salafi akan ditangkap.

Wahabi dan salafi itu pemahamannya sama saja, hanya beda nama saja dan masyarakat sendiri sering tertipu dengan nama salafi.
Masyarakat banyak sudah tahu bahwa kelompok JI, JAD, MIT dan HTI itu adalah kelompok teroris, tetapi apakah masyarakat banyak sudah tahu tentang kelompok wahabi dan salafi ? Teryata banyak masyarakat yg tidak tahu karena ulama2 wahabi salafi tetap terus mendoktrin masyarakat bahwa mereka adalah kelompok pemurnian islam dan kelompok merekalah yg paling benar.
Tidak semua orang/kelompok wahabi salafi itu menjadi teroris tetapi hampir semua kelompok teroris di Timur Tengah itu berpaham wahabi salafi, seperti : Al Qaeda, Al Nusra, Ikhwanul Muslimin, Boko Haram dan juga Taliban.
Pemahaman wahabi salafi itu sangat radikal, sangat keras, sangat kaku, seperti :
Demokrasi itu syirik dan wajib diperangi, hormat bendera dan nyanyikan lagu kebangsaan adalah haram, Pancasila thogut dan haram.
Pemahaman wahabi salafi bukan hanya merusak islam tetapi akan merusak bahkan menghancurkan sebuah bangsa dan negara.
Negara kita Indonesia itu multi budaya dan adat istiadat, sedangkan wahabi salafi semua budaya dan adat istiadat asli Indonesia itu haram, bid’ah, syirik, musyrik.

Indonesia perang lawan radikalisme dan terorisme,
Wahabi salafi tidak bisa hidup di Indonesia dan sangat berbahaya, tetapi sudah lama terjadi pembiaran. Kita bukan hanya berperang melawan kelompok teroris JI, JAD, MIT dan HTI, tetapi harusnya juga berperang melawan wahabi salafi.
Menurut PP RMI NU dinegara kita Indonesia ada 36 pesantren wahabi salafi, kenapa terjadi pembiaran ? Haruskah jumlahnya sampai ratusan bahkan ribuan baru sadar dan sudah terlambat seperti dinegara Pakistan.

Indonesia perang lawan radikalisme dan terorisme,
Jika serius berperang lawan radikalisme dan terorisme, maka harus ada TAP MPR untuk resmi melarang kelompok wahabi salafi di Indonesia dan semua itu bisa terjadi jika NU, Muhammadiyah dan MUI bisa bersatu mendukung pemerintah, sehingga pemerintah dapat dukungan kuat. Tetapi yg mau kuat mendukung hanya NU saja.

Indonesia perang lawan radikalisme dan terorisme,
Pemerintah tidak bisa sendirian.
Masyarakat harus bersatu, bersatu dukung pemerintah, dukung Polri, dukung Densus 88.
Polri, Densus 88 tidak bisa sendirian.

Journalist : Idham

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *