Berita  

GELIAT EKONOMI PERAJIN BATIK TAMPAK SEJAK ADA PELATIHAN WUB

Pamekasan — Metroliputan7.com.- Perajin batik di Pamekasan, Madura, Jawa Timur sudah merasakan dampak ekonomi adanya pelatihan wirausaha baru (WUB) gagasan Bupati Baddrut Tamam.

Program WUB ini memberikan aneka pelatihan usaha kepada masyarakat Pamekasan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Salah satu pelatihannya adalah pembuatan songkok, sandal, sepatu, tas, sarung tenun, service AC, makanan ringan, dan beberapa jenis pelatihan lainnya.

Berkat program tersebut, sebagian masyarakat telah merasakan imbas ekonominya. Seperti yang dialami Juma’ati (70) warga Dusun Nong Tangis Desa Rek Kerek Kecamatan Palengaan Pamekasan. Sebagai perajin batik yang sebelumnya tidak bisa dijadikan mata pencaharian lantaran daya jual rendah, batik kini mulai bergeliat kembali setelah di desanya ada produksi songkok batik.

Produksi songkok batik tersebut merupakan hasil pelatihan WUB yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan. Batik yang dijadikan bahan songkok merupakan hasil kerajinan warga desa setempat. Artinya, batik tidak lagi hanya untuk baju, melainkan telah merambah kepada produk lain yang dapat mendorong tingginya permintaan batik.

“Iya, sekarang sudah mulai bagus lagi penjualan batik, karena tidak hanya untuk baju atau sarung, tetapi sekarang sudah ada songkok batik juga,” tutur Jumaati saat ditemui di rumahnya, minggu (24/7/2022).

Jumaati yang telah puluhan tahun menjadi perajin batik itu menuturkan, sebelumnya perajin batik di desanya tidak lagi berminat untuk membatik, dan mencari pekerjaan lain yang pendapatannya lebih besar. Namun, saat ini sebagian perajin mulai kembali kepada profesi awal setelah permintaan batik meningkat.

“Saya tidak hanya membatik sendiri, tapi saya sekarang punya tujuh pekerja. Sebagiannya saya kerjakan sendiri biar bagus, tidak rusak. Karena saya menjaga kualitas. Setelah datang batik dari pekerja, saya masih lihat dan ditelateni lagi,” tandasnya.

Dia berharap, daya jual batik tetap tinggi supaya perajin tetap menggeluti kerajinan warisan nenek moyang tersebut, terutama anak-anak muda yang mulai tidak mengindahkan batik lantaran nilai ekonominya rendah.

“Ayo membati lagi biar batik sebagai warisan nenek moyang ini tidak hilang di pasaran,” ajak dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *