Inovasi jempol raga tingkatkan akses layanan hingga rumah warga
Banyuwangi — Kabupaten Banyuwangi menerima apresiasi dari Kementerian Kesehatan atas keberhasilan inovasi pelayanan kesehatan berbasis jemput bola yang diklaim mempercepat kenaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Angka Harapan Hidup (AHH).
Apresiasi itu disampaikan dalam forum sinergi pelayanan kesehatan yang dihadiri Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus dan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani pada 26 Oktober 2026.
Rangkaian inovasi dan integrasi layanan
Bupati Ipuk memaparkan beberapa terobosan yang dijalankan pemerintah daerah selama lebih dari satu dekade. Program tersebut meliputi Jempol Raga (Jemput Bola Warga) yang membawa pelayanan hingga tingkat rumah tangga, peran kader PKK, serta inovasi digital seperti Puspaswangi yang mengintegrasikan layanan konsultasi kesehatan melalui ekosistem Smart Kampung.
Selain itu, Banyuwangi juga mengembangkan program Angker untuk penanganan terpadu kasus stroke guna mempercepat deteksi dini dan mempersempit masa emas rujukan.
“Mohon maaf, warga miskin untuk tempat-tempat sampai ke rumahnya baru bisa ada Jempol Raga, Jemput Bola Warga, Rawat Warga. Ini ada beberapa inovasi yang sudah kami lakukan lebih dari 10 tahun dan sangat konsisten sampai sekarang masih berjalan,”
Menurut Bupati, keterlibatan kader dan pendekatan proaktif menjadi kunci pelaksanaan layanan di lapangan.
Kemenkes nilai capaian melampaui target nasional
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menyatakan capaian indikator kesehatan Banyuwangi telah melampaui target nasional yang seharusnya tercapai pada 2029.
“Tapi di Banyuwangi tadi tahun ini sudah 75. Target kita tahun 2029 adalah 76. Nah, ini tadi, angka kematian ibu di Indonesia itu 144, di Banyuwangi tadi saya tanya Kadinkes kalau dihitung-hitung kira-kira sekitar 40. Jadi, tinjauan target 2025 bahkan target 2029 di Kabupaten Banyuwangi sudah tercapai hari ini,”
Wamenkes sekaligus menekankan pentingnya pengawasan mutu program nasional, termasuk penyediaan makanan bergizi untuk pencegahan stunting dan penanganan tuberkulosis agar pengobatan tepat sasaran serta tepat waktu.
Skema pelaksanaan dan pemeriksaan kasus penyakit
Bupati dan Wakil Menteri menyoroti perlunya pengawasan berkelanjutan. Dalam pemaparan disebutkan bahwa program terintegrasi itu juga melibatkan pemantauan kasus tuberkulosis sehingga pengobatan dapat diarahkan sesuai kebutuhan masyarakat.
- Program jemput bola menjangkau layanan hingga rumah warga, melibatkan kader PKK di desa dan kecamatan.
- Inovasi digital Puspaswangi menghubungkan layanan kesehatan dengan ekosistem Smart Kampung.
- Angker dirancang untuk mempercepat deteksi dan rujukan kasus stroke.
Bupati menegaskan komitmen jangka panjang melalui konsistensi pelaksanaan program, sementara Kementerian Kesehatan menilai capaian itu sebagai bukti percepatan target yang direncanakan secara nasional.