Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) meminta pemerintah mengkaji kembali pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11 persen terhadap produk pembalut dalam keterangan di Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2026.
Wakil Ketua Harian Dewan Pengurus Pusat PKB Nadya Alfi Roihana mengatakan pembalut merupakan kebutuhan biologis yang harus dipenuhi perempuan setiap bulan. Menurut Nadya, pembelian produk tersebut tidak dapat diperlakukan seperti konsumsi yang bisa ditunda.
“Pembalut itu kebutuhan primer perempuan, bukan barang mewah, gaya hidup, atau produk yang bisa dipilih untuk dibeli atau tidak. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengkaji ulang pengenaan pajak 11 persen terhadap pembalut,” kata Nadya.
PKB soroti beban pengeluaran rutin
Nadya mengatakan kebijakan perpajakan perlu memperhitungkan karakter barang yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat. Ia menilai pungutan tersebut dapat menambah pengeluaran perempuan, khususnya mereka yang memiliki pendapatan terbatas.
Menurut Nadya, biaya pembelian pembalut muncul secara berkala dan harus disiapkan setiap bulan. Ia menyebut akumulasi pengeluaran selama satu tahun bukan jumlah yang kecil bagi sebagian perempuan.
“Jika dikalkulasikan dalam setahun, maka uang yang harus disisihkan tidak sedikit. Oleh karena itu, membebani pembalut dengan pajak sama saja menambah beban ekonomi perempuan atas kebutuhan biologis yang tidak bisa mereka hindari,” kata Nadya.
Akses produk menstruasi
Selain mempersoalkan pajak, Nadya menyampaikan bahwa akses terhadap pembalut yang layak belum merata. Ia mengatakan perempuan di wilayah pinggiran dan pedesaan masih menghadapi kesulitan membeli produk tersebut karena keterbatasan penghasilan.
PKB meminta pemerintah memperhatikan kondisi kelompok berpenghasilan rendah ketika mengevaluasi kebijakan PPN atas pembalut. Nadya juga menilai kebutuhan menstruasi tidak semestinya diposisikan sebagai barang konsumsi biasa.
- Usulan PKB: pemerintah diminta meninjau kembali PPN 11 persen atas pembalut.
- Alasan yang disampaikan: pembalut disebut sebagai kebutuhan primer yang berkaitan dengan kondisi biologis perempuan.
- Kelompok yang disoroti: perempuan berpenghasilan rendah serta mereka yang tinggal di wilayah pinggiran dan pedesaan.