Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin meninjau sejumlah proyek alat utama sistem senjata (alutsista) di PT Penataran Angkatan Laut (PAL), Surabaya, pada Selasa, 27 Oktober 2026. Kunjungan itu mencakup pembangunan Fregat Merah Putih, Kapal Selam Otonom (KSOT) KSSR, dan kapal selam Scorpene.
Informasi tersebut disampaikan dalam siaran pers Koarmada II yang dikutip pada Kamis, 29 Oktober 2026. Sjafrie juga melihat fasilitas pendukung di galangan kapal tersebut, termasuk graving dock Orca yang memiliki kapasitas 50.000 DWT, fasilitas kapal selam, dan pembangunan shiplift.
Fasilitas industri pertahanan maritim
Dalam keterangan yang disampaikan Koarmada II, kunjungan Menhan mencakup proyek-proyek strategis yang sedang dikerjakan PT PAL. Fasilitas dengan kapasitas 50.000 DWT itu disebut menjadi bagian dari pengembangan infrastruktur industri pertahanan maritim nasional.
“Dalam kunjungan tersebut, Menhan RI meninjau secara langsung sejumlah proyek pembangunan alutsista strategis, di antaranya Frigate Merah Putih, Kapal Selam Otonom (KSOT) KSSR, serta proyek Kapal Selam Scorpene,” bunyi siaran pers Koarmada II.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali turut menjelaskan sejumlah pekerjaan yang berlangsung di PT PAL. Menurut Ali, proyek yang dikerjakan di antaranya Fregat Merah Putih, Scorpene, KSOT, dan wahana permukaan tanpa awak atau USV.
- Fregat Merah Putih menjadi salah satu proyek kapal yang ditinjau.
- KSOT KSSR dan kapal selam Scorpene termasuk alutsista yang disebut dalam kunjungan.
- PT PAL juga memiliki graving dock Orca berkapasitas 50.000 DWT.
Menunggu waktu peremajaan KRI Sriwijaya-100
Ali mengatakan TNI Angkatan Laut masih menunggu kesiapan PT PAL untuk melakukan retrofit atau peremajaan KRI Sriwijaya-100. Kapal tersebut disebut sebagai kapal induk pertama milik Indonesia.
“Sekarang kegiatannya cukup padat PT PAL, nanti kita akan menunggu kapan waktunya yang efektif untuk melakukan retrofit KRI Sriwijaya ini,” kata Ali dalam rekaman suara dari Dinas Penerangan Angkatan Laut (Dispenal).
Selain PT PAL, Sjafrie juga mengunjungi sejumlah industri pertahanan nasional. Salah satu industri yang disebut dalam keterangan tersebut adalah PT Dirgantara Indonesia (DI).