Angka kemiskinan terus menurun
Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi, Jawa Timur, mencatat persentase penduduk miskin di daerah itu turun menjadi 5,6 persen pada 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan 6,13 persen pada 2025, berdasarkan keterangan BPS Banyuwangi pada Selasa, 3 November 2026.
Kepala BPS Banyuwangi Abdus Salam mengatakan penurunan tersebut juga terlihat pada Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2). Menurut dia, kedua indikator itu menggambarkan kondisi kemiskinan secara lebih rinci.
“Penurunan kemiskinan tidak hanya terlihat dari berkurangnya persentase dan jumlah penduduk miskin, tetapi juga diikuti penurunan Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2), dan ini menunjukkan perbaikan kondisi kemiskinan, baik dari sisi rata-rata kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan maupun ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin,” kata Abdus Salam.
Tren selama lima tahun
Data BPS menunjukkan persentase kemiskinan Banyuwangi menurun setiap tahun sejak 2021. Pada 2021, angkanya tercatat 8,07 persen. Persentase itu kemudian turun menjadi 7,51 persen pada 2022, 7,34 persen pada 2023, dan 6,54 persen pada 2024.
| Tahun | Angka kemiskinan |
|---|---|
| 2021 | 8,07 persen |
| 2022 | 7,51 persen |
| 2023 | 7,34 persen |
| 2024 | 6,54 persen |
| 2025 | 6,13 persen |
| 2026 | 5,6 persen |
Abdus Salam menjelaskan, P1 mengukur jarak rata-rata pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Adapun P2 menunjukkan tingkat ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin.
Ia menyebut dinamika kemiskinan berkaitan dengan pendapatan masyarakat, kesempatan kerja, kegiatan ekonomi, serta perubahan harga kebutuhan pokok. Harga pangan menjadi salah satu faktor yang diperhatikan karena pengeluaran makanan memiliki porsi besar dalam pembentukan garis kemiskinan.
Program penanggulangan kemiskinan
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengaitkan capaian tersebut dengan pelaksanaan sejumlah program penanggulangan kemiskinan. Ia menyebut program itu dijalankan melalui kolaborasi pemerintah dan masyarakat.
Program Banyuwangi Berbagi melibatkan aparatur sipil negara (ASN) dan masyarakat untuk menyalurkan sembako serta bahan pangan berprotein. Bantuan itu ditujukan kepada warga miskin pada desil 1 dan 2.
Pemkab Banyuwangi juga menjalankan Rantang Kasih. Program tersebut berupa pemberian makanan bergizi setiap hari kepada lansia miskin yang hidup seorang diri.
- Angka kemiskinan Banyuwangi pada 2026 tercatat 5,6 persen.
- Persentasenya turun dari 6,13 persen pada 2025.
- Banyuwangi Berbagi dan Rantang Kasih disebut sebagai bagian dari program penanggulangan kemiskinan.